Karomah Habib Ali Masyhur Tarim di Mata Habib Mundzir Al-Musawa.

Habib Ali Masyhur bin Muhammad bin Hafidz, Sang Mufti Tarim Hadramaut Yaman adalah sosok ulama besar yang penuh karomah. Ilmunya diakui semua ulama sedunia. Walaupun punya posisi yang begitu tinggi dalam keulamaan, Habib Ali Masyhur adalah sosok yang tawadlu. Kesehariannya dipenuhi kisah keteladanan yang penuh kasih sayang kepada sesama, apalagi kepada para pecinta ilmu.

Kisah berikut ini adalah kesaksian yang pernah disampaikan salah satu muridnya di Darul Musthofa, Tarim, sebuah pesantren yang melahirkan ulama besar di berbagai penjuru dunia. Darul Musthofa ini diasuh Habib Ali Masyhur bersama saudara-saudaranya, termasuk sang adik tercinta Habib Umar bin Hafidz. Murid yang berkisah ini adalah Habib bin Fuad Al-Musawa, pendiri Majlis Rasulullah, yang dulunya mengaji di Darul Musthofa Tarim.

“Salah satu dari guru saya, Al Habib Ali Al Masyhur bin Hafidz, beliau adalah mufti Tarim dan kakak guru mulia kita Al Habib Umar bin Muhammad bin Hafidz. Dimana ketika itu masih zaman perang, maka sangat sulit untuk kita mendapatkan kendaraan, sehingga beliaulah yang datang kepada kita dengan kendaraannya untuk mengajar kita.

Ketika itu bulan Ramadhan, dimana kebiasaan orang-orang disini mereka pada pulang kampung, namun di Tarim pada bulan Ramadhan majelis ta’lim terus berjalan, bahkan di sore hari Idul Fitri atau Idul Adha mereka tetap mengadakan ta’lim.

Kemudian Al Habib Ali Al Masyhur menentukan akan diadakan ta’lim di bulan Ramadhan setiap jam 11.00 siang sampai 12.30 yang kebetulan waktu zhuhur ketika itu adalah jam 01.00 siang dan di waktu itu panas matahari sangat terik yang panasnya bisa mencapai 45 Celcius, sehingga jika telur mentah dipendam di dalam tanah maka setelah 10 menit telur itu menjadi matang. Disana ketika menjemur pakaian pun tidak berlalu waktu lama pakaian telah kering, sangat berbeda dengan tempat kita yang terkadang menjemur pakaian hingga 2 hari belum juga kering karena cuaca mendung.

Maka di saat itu, Al Habib Ali Al Masyhur karena beliau memiliki mobil pribadi maka beliau yang datang ke tempat kita para santri, bukan justru kita yang datang ke tempat beliau.

Di suatu hari, kita para santri telah berkumpul menunggu kedatangan beliau namun hingga jam 12.00 beliau belum juga datang, yang akhirnya pada jam 12.30 beliau datang. Dengan wajah yang memerah dan penuh keringat, beliau berkata, “Maafkan saya, maafkan saya karena mobil saya rusak sehingga saya harus berjalan kaki”.

Subhanallah.. Beliau datang bukanlah untuk belajar akan tetapi untuk mengajar, namun beliau rela berjalan kaki dengan jarak kurang lebih 2 Km dan usia beliau yang sudah terbilang tua, padahal beliau bisa saja menghubungi kami dan meminta supaya santri saja yang datang ke tempat beliau. Sebab mobil beliau rusak atau untuk saat itu ta’lim diliburkan dulu atau yang lainnya.

Namun beliau tidak melakukan hal tersebut.”

Demikian kisah Habib Mundzir bin Fuad Al-Musawa yang sangat terkenang dengan guru tercintanya. Kisah ini menjadi bukti nyata karomah Habib Ali Masyhur yang sangat perhatian dengan ngaji. Usianya yang sudah sepuh sedikitpun tak menghalangi langkahnya untuk mengajar santri. Inilah karomah seorang ulama yang menjadi teladan sepanjang masa.

Demikian karomah Habib Ali Masyhur Tarim di mata Habib Mundzir Al-Musawa, semoga bermanfaat.

(Mukhlisin)

Baca Berita Terkait
Comments ( 0 )
Anda berkomentar sebagai pengunjung, silahkan login atau register