Pecihitam.org – Nampaknya semakin cepanya zaman juga berpengaruh kepada permintaan yang serba instan dalam segala hal. Bahkan remaja hingga orang dewasa sering terlibat dalam permasalahan yang meminta satu kesimpulan dibandingkan berbagai pandangan.

Mereka tidak sadar bahwa konsep satu jawaban pada semua permasalahan yang hampir serupa dapat memunculkan permasalahan baru jika permasalahan tersebut dalam keadaan yang berbeda dari sebelumnya.

Misalnya saja hukum memakan bangkai. Dari hukum asalnya, memakan bangkai adalah suatu keharaman dan pelakunya akan dikenai dengan dosa. Namun dalam keadaan kelaparan dan tidak ada barang lain yang bisa dimakan selain bangkai itu sendiri, maka hukum memakan bangkai menjadi halal baginya.

Tentu, akan sangat repot bila memakan bangkai dihukumi haram pada semua keadaan. Banyak orang mati karena menderita kelaparan. Oleh karena itu, perbedaan pendapat diantara para ulama alim bisa disebut sebagai rahmah, karena perbedaan pendapat diantara mereka dapat menjadikan rukhshah (keringanan) bagi umat Islam sendiri.

Namun, dalam pembuatan hukum mereka tidak asal-asalan. Mereka menggunakan literatur yang kuat, bahkan melakukan penelitian untuk mendapatkan hukum yang benar.

Sayangnya yang terjadi belakangan ini, perbedaan pendapat digunakan sebagai senjata untuk menghujat seseorang. Mereka tidak melakukan tabayun (klarifikasi) dengan yang berpendapat, namun langsung menghujatnya habis-habisan secara langsung maupun melalui akun media sosialnya.

Pola inilah yang kerap menjadi permasalahan pada model keagamaan kita. Kita menelan mentah-mentah suatu pandangan tanpa adanya pengklarifikasian. Kita lebih suka disuapi daripada mengetahui permasalahan itu secara rinci. Kita malas berfikir dengan permasalahan yang semakin rumit berkat hadirnya banyak pandangan.

Menganut sebuah kebenaran dan menganggap yang lain sebagai fatamorgana dengan segala kecacatannya. Kita menganggap pendapat satu ulama benar karena sesuai dengan kemauan kita. Sebaliknya, menolak pendapat ulama lainnya karena membuat kita resah bahkan menyudutkan posisi kita.

Hal inilah yang menjadi celah lebar terbukanya Islam radikal. Mereka menawarkan solusi yang “simple” di setiap permasalahan. Maksud simple disini adalah mengkerdilkan berbagai macam pandangan. Mereka cepat memutus perkara dan pandai melemparkan jawaban sesuai keinginan kita.

Sebagai penguatnya, mereka tambahkan sedikit terjemah Al-Qur’an dan hadits yang mendukung. Kemudian menghilangkan terjemah yang bertentangan dengannya. Tidak kaget, jika pola dakwah modern kini hanya berfokus pada persoalan halal dan haram belaka.

Tidak terasa ulama radikal berhasil menerobos barisan persatuan. Mengoyak bingkai indah Keislaman menjadi rentetan doktrin internal. Mereka semakin gencar meniupkan virus intoleran melalui penyempitan pemikiran. Bahayanya, umat menjadi candu dengan cara yang mereka tawarkan. Akibatnya, umat kian tak toleran dan mudah tersinggung atas pendapat yang berlainan.

Sudah saatnya bangsa ini terbebas dari jeratan pemikiran radikal semacam ini. Umat harus diberikan wawasan seluas-luasnya terhadap suatu permasalahan. Merubah mindset berfikir, dari yang instan menuju pendalaman proses yang panjang. Dengan begitu, umat akan semakin giat belajar dan tidak serta merta menelan mentah-mentah pendapat orang lain.

Umat akan bijak menimbang, seberapa baguskah pandangan yang ia miliki. Dia akan membuka pikiran dengan berdiskusi kepada berbagai macam golongan. Sehingga ia mempunyai kedalaman ilmu dan penguasaan materi yang mendalam. Akhirnya dirinya tidak mudah menyalahkan pendapat yang bertentangan. Kalaupun pendapat itu salah, dia mempunyai cara yang solutif untuk meluruskannya, tentu tidak dengan mengolok-oloknya.

Baca Berita Terkait
Comments ( 0 )
Anda berkomentar sebagai pengunjung, silahkan login atau register